Macam-Macam Tes Ajaib, di Sini Tempatnya!

Tampilkan postingan dengan label Esai di Media Massa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai di Media Massa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2020

Kisah Bertemu Sang Garuda, dan Wejangannya Buat Indonesia


Sabtu (10/10/2020) - Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya sudah sampai di negeri awan. 

Ternyata keadaannya mirip-mirip di Bumi, baik dari jenis batuan yang saya injak, rerumput liar yang tumbuh dari sela-sela sambungannya, sampai kadar oksigen dalam udara yang saya hirup. 

Bedanya, anginnya silir tenan, tapi kabutnya ndak habis-habis. Burem kayak sore-sore di pegunungan. 

Tidak perlu jalan terlalu lama, Sang Garuda kebetulan baru bangun tidur. Kucek-kucek mata sebentar dengan sayap kanan besarnya yang tampak lemas. Sementara itu, sayap kirinya ngelus-elus perut, yang ternyata juga tak kalah besar dari sayapnya yang punya 17 bulu itu. 

Ternyata dia liat saya, lalu merentangkan sayapnya ke atas sambil bilang 'hoy' atau sapaan singkat sejenis. Saya lupa. Tapi sekaligus menyiratkan gestur agar saya menunggu sebentar. 

Saya baru sempat membalasnya dengan mengangkat tangan. Dia sudah melengos, lanjut senam-senam kecil. 

Di kiri saya ada bangku kayu yang buat naiknya saja harus pakai lompat. Saya memilih tidak bersandar, bukan hanya karena sandarannya memang jauh, tapi biar kaki saya bisa menggantung. Biar bisa mainan kaki, kayak anak kecil. 

Loh, loh, loh. Ternyata dari tadi depan saya itu kolam. Kaget saya. Pantesan lumut dan rumput liar yang saya temui dari tadi, kok, kayaknya seger. Ternyata akarnya bisa minum dari sini. 

Loh, loh, loh! Sang Garuda, kok, nyemplung. Mandi? Loh, renang! Edan tenan. Nyilep sisan. Saya bergerak refleks. Seketika saya lompat dari bangku, mencari-cari gelembung nafasnya di air masih ada atau tidak. "Iso munggah opo orak manuk iki," batinku. 

Syukurlah. Ternyata cuma sebentar. Dia mentas, sambil bawa ikan besar di paruhnya. Aneh-aneh memang Sang Garuda ini. Ternyata dari tadi dia itu laper toh, mau makan dulu. Mbok bilang tho dari tadi, mbah, mbah. Ah, saya tinggal udud wae, lah. 

***


Selesai makan, Sang Garuda jalan ke arah saya, 'kipik-kipik'. Dengan ukuran dua kali lipat besar manusia, jelas airnya nyembur kayak semprotan cuci motor salju. Saya nutupin udud biar nggak mati kena air. Susah nanti kalo mau nyumet lagi. Anginnya gede

Setelah dia ikut duduk sambil masih geriming-geriming mirip orang masuk angin, akhirnya kita bisa ngobrol. 

"Njenengan itu lho, maem kok pakai nyemplung air segala," ujarku basa-basi membuka obrolan. 

"Lha piye, mas. Emang kudune ngono. Dulu memang bisa, tinggal nyucruk. Sekarang ikan besarnya pada di dalam. Yo wis, rekoso sithik orak masalah. Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam," ujarnya. 

Iya, sih, kolam ini terbilang gede banget buat manusia. Kalo dianggap lautan juga oleh seekor manuk, wajar lah

Rokok saya diambil satu olehnya. Masih doyan dia kalau jenis kretek. Lucu juga di balik otot-otot sayap maskulin itu, bulunya tetap lentik, sampai-sampai bisa kayak jemari manusia. Dia nyalain koreknya pakai kaki. 

"Kolam ini buatan ya, mbah?" tanyaku sok akrab. Dia cuma manggut-manggut mengiyakan. 

Kemudian Sang Garuda menceritakan kisah-kisah mengenai tempat tinggalnya ini. Dari mulai zaman orak enak, zaman rekoso-nya, era-era kejayaan dan kepercayaan diri, sampai sempat punya periode menutup diri, sampai zaman opo-opo enak, tinggal ciduk, dan keenakan hingga seperti sekarang. Jan, persis sejarah Indonesia. 

"Tetangga-tetangga yang mbah tadi ceritakan itu, ada elang, ada macan, ada panda, raksasa buncit segala, itu sebenarnya sempat takut lho, sama mbah. Apalagi kalau mbah sudah bisa terbang lagi," ujarku menimpali ceritanya. 

Sekadar informasi, tadi dia sempat menyinggung cerita mengenai sebab-sebab dia sudah malas terbang. Sampai-sampai sekarang memang sudah ndak bisa terbang. 

Banyak ternyata alasannya. Yang paling koplak, mungkin karena dia (sambil bercanda) bilang kalau perutnya sudah kegedean, dan badannya itu sudah ringkih, gampang masuk angin. 

Haha. Waktu dia cerita itu, jelas aku ngekek. Manuk, kerjaannya bersatu sekaligus melawan angin, kok bisa itu lho, kena masuk angin. Ada-ada saja Sang Garuda ini. 

"Terus, kalau kita pengen mbah terbang lagi, mengepakkan sayap lebarmu itu di angkasa, bikin takjub, semarak, sedikit nakutin boleh juga, dan punya manfaat lagi kepada berbagai aspek Poleksosbudhankam di seantero dunia. Kita salah ndak mbah?" pintaku. Kayak anak kecil.

"Yo enggak, lah. Malah bagus, lah!" jawabnya. 

"Caranya?" 

"Yo, tinggal anjlok. Gitu aja kok repot," jelasnya sembari menghembuskan asap lewat lubang hidung di paruhnya. 

Tanpa sadar, saya justru menimpali:

"Tapi, dalam waktu dekat ini, jangan anjlok dulu, deh, mbah."

***


Jujur, alam bawah sadar saya memang didominasi pikiran bahwa Sang Garuda, Si Mbah Garuda itu, belum siap buat anjlok

Anjlok itu ya, semacam burung baru mulai belajar terbang begitu, lah. Terjun. Bayangin kalau burung dewasa belajar semacam itu, kita lihat saja ngilu sendiri, kan? Semacam lebih kasihan begitu, kan? 

Apalagi Simbah yang sebesar itu, seberat itu, serumit itu cara terbangnya dan masalah-masalah yang sedang dipikulnya. Kemungkinan berhasilnya sekarang ini, saya perkirakan cuma 50 persen. 

Berani? Jelas berani aja Simbah kita ini. Tapi berani dan nekat itu beda ceritanya walaupun tipis. 

Simbah menyiratkan kalau persentase keberhasilan buat terbang lagi dengan anjlok, itu memang bergantung kesiapan internal. Minimal, perlu waktu buat ngecilin perut, bikin sayap bisa kuat lagi, dan membiasakan diri biar kalau pas terbang nanti, nggak bersin-bersin karena kena angin. Nggelebak malah lhaiske. 

Sayangnya, minimal butuh periode satu-dua generasi buat sedikit-sedikit meningkatkan persentase keberhasilan itu. Nantinya ndak bisa 100 persen, ndak masalah, lah. 

Tapi memang satu generasi itu harus rekoso. Perlu keikhlasan dan penerimaan tersendiri, karena belum tentu sepanjang hidupnya nanti sempat menemui dan menikmati langsung terbangnya Mbah Garuda. 

Satu generasi ini harus mau diajak ngecilin perut, mau diajak memperkuat jiwa-raga internal, mau mengorbankan diri untuk tidak terjebak dalam periode 'keenakan'. 

Berat kan? Tapi bahkan belum cukup sampai di sana. Generasi ini harus ikut mempersiapkan keberanian buat anjlok. Mau turun. Mau ke bawah. 

Entah dalam terminologi sosial, ekonomi, kepemimpinan dan politik, bahkan mentalitas pribadi yang akan ditabrak oleh realita-realita 'udah, ngapain sih, toh, begini aja sudah enak'. 

Terlihat nanti, Anjlok po rak mentalmu. Tergoda atau tidak nafsumu itu. Ngeper atau tidak kamu ketika menemui godaan-godaan kenyamanan yang sudah didapatkan. 

Kalau masuk jajaran elit kepengurusan negara, maukah turun mendengarkan aspirasi dan mengungkap ide-idemu langsung di depan wajah rakyatmu? 

Kalau jadi konglomerat, miliarder, jutawan, pengusaha, wirausaha, maukah turun menggandeng usaha kecil dan ikut mengorbankan pendapatanmu buat orang-orang di luar keluarga dan golonganmu saja? 

Bahkan, ketika hanya sampai sebagai kelas menengah pun, maukah kamu turun membangkitkan keresahanmu yang setiap harinya telah terkubur rutinitas? Sekadar belajar lagi dengan membeli koran atau buku, dan membangkitkan keinginanmu untuk bermanfaat walaupun sedikit, untuk mengorbankan rezekimu dalam kegiatan amal, sosial, serta mengendapkan sebagian lainnya buat mensukseskan pembangunan negara atau membantu usaha-usaha kecil yang membutuhkan permodalan? 

Serta maukah kita semua turun beraktivitas setiap hari bukan hanya untuk mengeluh 'prihatin' kemudian curhat di medsos, sekadar 'kerja-kerja-kerja' atau belajar sesuai bidang keilmuan yang kita mau saja? Berjanji tidak cuek terhadap potensi-potensi di sekitar dan enggan langsung berperan dalam perbaikan-perbaikan kecil di masyarakat? 

Saya juga sempat tanya mengenai hal ini kepada Sang Garuda. Mana mungkin ada generasi yang kompak mau nelongso seperti itu? Kapan kelahirannya dan bagaimana cara mempersiapkan anak-anak manusia di Indonesia nanti menghadapi periode semacam itu? 

Nahas, Simbah malah marahin saya: "Ora usah ngomyang tok, ora usah kakean takon, ora usah kakean teori, ora usah bedek-bedekan. Kamu sendiri malah masih di sini. Turun sana!"


azr. 


Kamis, 21 Desember 2017

Pura-pura Sakit Itu Biasa, Pura-pura Kesurupan: Itu Baru Keren!




Assalamualaikum,


Dengan pura-pura kesurupan, saya bisa pastikan tidak akan ada Jaksa KPK yang berpikir untuk membawa dukun sebelum persidangan.


Melihat sidang kasus korupsi e-KTP terdakwa Papah Setya Novanto di PN Tipikor, Rabu (13/12/2017) kemarin, rasanya kok seperti mendengarkan sepasang kekasih yang sedang ribut di acara nikahan teman, ya? Senyap di tengah keramaian, gitu.

Ceritanya si cewek ini sudah kebelet nikah, tapi si cowok sedang ingin menikmati masa mudanya dulu. Duh, berat. Saya yakin, tipe cowok inilah yang sanggup memahami perasaan Yang Mulia Hakim Yanto yang berjam-jam dicuekin, berasa seperti ngobrol dengan tembok.

“Sayang, kamu kenapa?” kata si cowok. 

Hening.

“Kamu pengen nikah ya?”

Masih hening.

“Benar nama anda Siti? Lahir di Bandung? Umur 23 tahun?”

Eh, si cewek tiba-tiba minta izin ke toilet. Diare katanya. Tapi dalam lubuk hatinya yang terdalam, si cewek menggerundel: huh, dasar cowok nggak peka!

***

Barangkali itu pula yang dirasakan Papah Setnov dalam persidangan kemarin. “Saya ini sedang sakit, kok nggak ada yang peka, sih!” mungkin itu isi pikiran beliau, sehingga suasana persidangan jadi diselimuti awan keheningan. Kasihan.

Lebih kasihan lagi, Papah Setnov justru dianggap berpura-pura sakit oleh para JPU (Jaksa Penuntut Umum). Jaksa Irene Putri seperti sudah berpikir selangkah lebih maju. Sudah menyiapkan dokter jauh sebelum diminta, tahu juga kalau ternyata Papah Setnov sebenarnya tidak bolak-balik ke toilet dua puluh kali pada malam sebelum persidangan. Tapi hanya dua kali pada pukul sebelas dan pukul dua tiga puluh pagi. Kemudian sembari tersenyum beliau berkata, “Kami memikmati apa yang dilakukan terdakwa. Dan skenario yang dilakukan terdakwa sudah kami pikirkan sebelumnya.”

Sedap!

Tuh, kurang perhatian apa coba? Wajarlah kalau Papah Setnov dianggap melakukan malingering oleh banyak pihak.

Hah, malingering? Penyakit apa itu? Apakah ini semacam penyakit yang hanya diderita oleh para maling?

Oh, tentu saja bukan. Malingering adalah penyimpangan perilaku seseorang yang dengan sadar membuat gejala palsu untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Seperti mendapatkan obat, menghindari hukum, mendapatkan tempat penginapan, dll. Di samping keluhan fisiknya, mereka biasanya mengelak dan tidak kooperatif selama pemeriksaan, atau pengobatan, dan mereka menghindari prosedur medis. Itu yang saya baca dari Buku Saku Psikiatri karya David A Tomb.

Belum lagi kalau ditambah paparan seorang psikolog forensik, Reza Indragiri yang saya lihat lewat mas Yousube. Beliau mengungkapkan bahwa modus malingering ini memang terbukti ampuh dan telah dibuktikan dengan data statistik. Dari sekian banyak terdakwa yang diduga malingering, hanya tujuh belas persen yang sanggup dibongkar kebohongannya oleh Majelis Hakim. Pantas saja, dengan begitu, predikat “jago akting” pun bakal jadi julukanmu sekarang, pah.

Tapi kalau saya sendiri, tidak pernah bilang kalau Papah Setnov itu pura-pura sakit, loh. Hanya merasa aneh saja. Ngakunya mencret, tapi kok malah tidak bisa ngomong. Ini hubungannya apa ya?

Saya ini sudah berkali-kali menceret semasa hidup, dan silahkan tanyakan pada setiap orang yang pernah menceret juga. InsyaAllah sependapat. Dimana-mana, orang menceret itu justru ngomong lebih lancar, cepat, dan malah terasa lebih bersemangat dari orang yang sehat! Percayalah. Contohlah begini:

“Benar nama anda Setya Novanto?”

“Yak!”

“Umur 62 tahun?”

“Tul!”

“Lahir di Bandung, tang...”

“Aduh, cepetan dong! Saya mau ke toil...!” seketika sebuah suara PRETT terdengar begitu keras, disusul bau menyengat menyelimuti ruang sidang, “AHH. SAYA SUDAH KECEPIRIT, NIH!!!”

Itu baru namanya mencreters sejati.

Jadi kalau boleh saya simpulkan, ternyata Papah Setnov itu masih newbie masalah mencret-memencret. Padahal tadinya saya sempat kagum juga. Saya kira para pejabat itu cuma bisa terkena penyakit elit macam stroke, diabetes, jantungan, dan sudah kebal dengan penyakit kelas bawah. Ya, seperti menceret ini.

***

Sebab itulah kalau saya boleh memberi saran pada Papah Setnov, janganlah pura-pura sakit, tetapi pura-puralah kesurupan. Pastilah jalannya sidang akan jauh lebih keren!

Saya sudah merenungkannya sejak lama. Sebenarnya banyak modus pura-pura lainnya untuk menghindari hukum dan jauh lebih efektif daripada pura-pura sakit. Ada modus pura-pura amnesia ala Fitri Tropica, ada juga pura-pura mati ngambang ala Raditya Dika.

Tapi, setelah dilihat-lihat lagi, modus pura-pura kesurupan ini sepertinya modus yang paling cocok deh, buat Papah Setnov. Sebab kata mbah saya, setan itu suka sama orang yang melamun terus. Nah, mirip sekali dengan Papah Setnov sewaktu sidang kemarin. Pasti Majelis Hakim bakal percaya!

Dengan pura-pura kesurupan pun, saya bisa pastikan tidak akan ada Jaksa KPK yang berpikir untuk membawa dukun sebelum persidangan. Sehingga ketika ditanya oleh Hakim:

“Benar anda Setya Novanto?”

“HRRMMM, BUKAN..... SAYA MBAH GONDRONGGG!!!”

Semua orang seketika kalap, sidang pun ditunda dengan begitu cepatnya. Dokter yang dipersiapkan JPU semuanya speechless karena kesurupan itu di luar kompetensi mereka. Nah, sukses kan, pah!

Simpel, efisien, tidak perlu memakan waktu belasan menit beserta sandiwara cuek ala ‘adek minta nikah’ segala. Para jamaah mas Yousube dan kreator meme pun tak perlu menghabiskan banyak kuota untuk bahan berkreativitas. Pokoknya semua pihak menang!

Saran terakhir saya buat papah Setnov, daripada meratapi diare, lebih baik buat diary saja, pah. Bisa berupa blog, atau sekalian channel vlog selama di rutan. Kalau berkirim surat terus dengan kolega di DPR, dijamin lama-lama pasti membosankan. Tapi kalau buat diary dan jumlah viewers-nya bisa menyamai orang-orang yang melihat video sidang Papah Setnov, pasti bakal lumayan banget, tuh pendapatan dari endorse dan iklan yang dihasilkan.


Alhasil, selamat berjuang untuk Papah Setnov. Ditunggu akting kesurupan di persidangan berikutnya!


Kamis, 11 Agustus 2016

Opini Saya di Tribun Jateng (23 Juni 2016)


Assalamualaikum,

Opini Aziz Rahardyandi Tribun Jateng (23 Juni 2016)


Akhirnya masuk koran lagi. ^^

Ya, kali ini saya membahas perihal demonstrasi di Unnes, kampus saya. Tulisan ini merupakan janji saya terhadap seorang teman aktivis yang ingin kegiatan demonya diabadikan dalam sebuah tulisan. Selain itu, tentu secara pribadi saya juga mengapresiasi para mahasiswa yang melaksanakan demo dengan begitu hikmat.

Benar-benar tak ada kerusuhan, tak ada rumput dan tanaman yang rusak, bahkan satupun sampah yang tersisa di akhir demo. Benar-benar mencerminkan semboyan utama kampus mereka: kampus konservasi.

Sebab itulah, saya ingin mencoba mengingatkan kembali pada generasi muda. Jangan sampai emosi dan energi yang kalian keluarkan itu jadi berdampak negatif. Ini lho, mahasiswa Unnes saja bisa. ^^

Yah, pokoknya silahkan baca selengkapnya saja di sini >> Demonstrasi Tanpa Rusuh

Selamat membaca. Silahkan pertanyaan, komen atau berikan tanggapan teman-teman terhadap tulisan ini. Atau bahkan kalau ingin diberitahu tips-tips seputar dunia penulisan, kita bisa sharing dan saling berbagi pengalaman, lho. ^^

Selamat menikmati dan terima kasih yaw. :)


Sabtu, 18 Juni 2016

Opini Saya di Tribun Jateng (28/4/16)


Assalamualaikum,

Opini Aziz Rahardyan Tribun Jateng
Forum Mahasiswa Tribun Jateng (28/4)


Beberapa bulan yang lalu, opini saya diterbitkan di Forum Mahasiswa harian Tribun Jateng pada Kamis (28/4/16). Ini pertama kalinya esai saya tembus media massa lho. Haha xD

Tidak seperti biasanya, Aziz Rahardyan yang hanya aktif menulis di konten website dan forum-forum internet ternyata bisa alih profesi juga sebagai penulis kolom. Yah, doakan saja semoga berkah dan banyak gagasan-gagasan saya lainnya yang bisa dimuat di media cetak. :)

Silahkan bagi yang mau membaca artikel saya, bisa kunjungi website resmi Opini Tribun Jateng disini: http://jateng.tribunnews.com/2016/04/28/menanti-bus-antarkampus.

Bila ada kritik, saran, tanggapan atau pertanyaan tentang tulisan saya, silahkan kunjungi salah satu media sosial saya. Selamat membaca. ;)


sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com