Macam-Macam Tes Ajaib, di Sini Tempatnya!

Rabu, 09 Juli 2014

Cerita Riddle Horror Vol. 3


Assalamualaikum..

The Riddler (Batman Villain)


Menanggapi riddle ane di vol 1 dan vol 2,

Rasa-rasanya dosa besar nih ane kalo nggak update lagi. Hehe. Maka dari itulah, alhamdulillah banget, otak ane masih diberi kesempatan untuk ngelanjutin cerita riddle lagi. :D

Seperti di vol 2 yang tergolong singkat-singkat, ane jadi kepikiran : Kenapa setiap volume nggak dijadiin edisi khusus aja ya??

Nah, karena itulah ane putusin riddle kali ini adalah edisi khusus :

Riddle Horror... 


:# :# :#

Tanpa suspect and victim, penbunuh atau dibunuh, tanpa teka-teki kehilangan nyawa. Kalian tinggal cari aja fakta sebanyak-banyaknya dalam cerita-cerita ini.

Bebaskanlah pikiranmu, jangan terpaku pada kunci jawaban penulis, Tebaklah sesuai imajinasi. Kenapa? Karena memang untuk itulah cerita riddle dibuat. Huahahahahaha. #ketawajahat

Nah, makanya jangan diem aja ya. Barangkali imajinasi kalian lebih liar dari gue misalnya. Syukur-syukur bisa sekalian bikin dan silaturahmi kan.. :@

O iya, terakhir, bacanya malem-malem aja ya biar greget. :O

Oke, kalo gitu thanks for coming and silahkan membaca.. ;)


Perpustakaan Tua:
Soal:
Temukan beberapa fakta!



Mahasiswa zaman sekarang, biasanya jarang sekali mengunjungi perpustakaan. Termasuk aku ini. Yeah, kalau bukan karena dosen gila itu, kelihatannya membuat makalah tak akan seribet ini deh. Tinggal copas-copas saja dari internet, selesai sudah.

Ah, sudahlah. Toh sekarang aku sudah berada di perpustakaan kota. Sekali-kali menikmati suasana perpus tua yang sepi ini, tak apalah.

Saking nikmatinya, tak terasa sudah jam 20.30. Perpus akan tutup setengah jam lagi dan aku belum menemukan apa yang kucari. Kutipan pidato awal kepemimpinan presiden Putin untuk melengkapi makalahku, belum ketemu sejak 2 jam lalu. Bagus, bisa mati aku besok.

Padahal, buku-buku tentang sejarah Rusia hanya ada di satu rak. Dibelakangnya ada lorong panjang kosong tempat buku-buku sejarah negara lain tergeletak. Yang menyebalkan adalah, buku-buku mengenai presiden, semuanya ada di rak paling atas. Sial, aku harus menggunakan tangga kecil untuk mencapainya.

Hanya ada satu tangga kecil di setiap lorong. Untungnya di lorong buku sejarah negara ini, hanya ada aku sendirian. Mudah saja tangga kecil ini ku kuasai.

Eh iya, ngomong-ngomong, ternyata di ruangan ini hanya tinggal beberapa orang yang tersisa. Aku, cewek dengan seragam sekolah kesehatan dan mas-mas muda yang kelihatannya sudah S2. Ditemani suara horor dari kipas angin putar yang kadang menggemeretak keras. “Trak.. trak.. tratatatatak..,” Selanjutnya, kembali sepi senyap.

Ah, akhirnya selesai juga. Aku kira akan ada kejadian aneh di perpustakaan yang katanya angker ini. Hanya saja, waktu mengembalikan buku-buku sejarah presiden di rak.......... Shit!!

Muncul wajah seorang nenek-nenek tua dari balik rak buku. Dengan senyum ramah dan mata yang hanya kelihatan segaris. Sial, hampir mati kaget aku dibuatnya!

Dengan canggung aku-pun menundukan kepala tanda hormat, dia masih tersenyum. Kelihatannya dia sedang mengembalikan buku-buku yang berserakan di lantai.

Kemudian ada mas-mas di loket peminjaman yang masih bekerja sendirian sampai malam begini. Hebat sekali dia, batinku.


“Malem bener mas?,” katanya ramah.

“Iya, tugas kuliah buat besok mas. Hehe,” jawabku enteng.

“Oh, nggapapa mas. Kami malah seneng kok kalo ada yang belajar sampai malam begini,” ujarnya.


Kami? Oh, kukira petugas lain sudah pulang duluan, batinku lirih.

Alhasil, akupun meninggalkan perpus dengan tenang. Bukunya ketemu, selesailah tugasku besok. Tapi yang membuatku merinding, kenapa setelah aku keluar dengan motorku, semua lampu perpus langsung mati??

Ceklek.. ceklek.. ceklek!!!

Dari jalan raya, akupun hanya bisa bergumam, “Kayaknya aku orang terakhir yang keluar ya?,”





Basket Kepala:
Soal:
Masuk 3 points ya?



Basket sudah menjadi rutinitasku belakangan ini. Aku sudah menggelutinya sejak awal-awal masuk SMP dulu, 4 tahun lalu.

Aku adalah bagian dari tim inti di SMA ku. Beberapa bulan kedepan, kami akan ikut dalam kejuaraan nasional. Well, kau akan tau sesibuk apa kami dibuatnya nanti.

Malam ini kami akan latihan lagi untuk persiapan menjelang Jurnas. Tapi sesampainya di lapangan, sial, ternyata yang datang hanya sedikit sekali. Hanya ada 6 orang disana, termasuk aku. Gila! Mereka sebenarnya niat nggak sih?

“Katanya sih pada nggak berangkat gara-gara takut. Ada gosip beredar, disini habis buat pertengkaran antar preman kampung. Gue juga ngga tau sih, masak preman bentrok di dalem sekolah ya? Ya kan?,” kata senior sekaligus kapten tim kami, Atang.

Yah, mau mereka tak datang kek, mau sakit kek, mau takut kek. Toh semuanya sama saja di setiap latihan. Selalu aku yang mendorong keranjang bola dan menyala-nyalakan lampu. Bedanya, kali ini kita hanya latihan di satu ring karena sepi.

Hey.. hey.. hey.. Jangan mengejek ya. Walaupun aku paling junior dan paling disuruh-suruh di tim inti, aku tak pernah bolos dari starting 5 lho. Aku shooting guard utama di tim, bahkan terbaik di tingkat nasional.

Hey.. hey.. hey.. Masih tak percaya? Kalau begitu kau harus melihatku bermain. Percayalah, setiap aku akan menembak 3 points, pastikan bahwa cewek-cewek di sekitarmu itu berteriak, “Arial..!!! Arial..!!!” dengan heboh. Kau akan iri nanti.


Entahlah, wajahku memang standard, tapi kata mereka, gaya-ku lah yang terlihat keren. Bagaimana aku menembak dan berbalik badan sebelum bola masuk ke ring, dimata mereka adalah gaya yang paling cool.

Tadinya sih gaya itu memang tak kusengaja. Tim ini terkenal dengan pertahanannya yang sangat kuat. Alhasil, aku sudah harus kembali dengan cepat sehabis menembak. Terciptalah gaya ‘cuek’ ini.

Nah, kesan cuek yang mendasar itulah yang membuat mereka –cewek-cewek– semakin liar. Apalagi kalau tembakanku itu clean shoot yang mulus. Wow, mereka pasti berteriak keras. Akhirnya, aku jadi ketagihan bergaya sehabis melakukan shooting.

Itu juga kulakukan setiap aku latihan. Caranya gampang. Hanya berdiri di belakang garis 3 points di belakang teman-teman, mengambil satu bola dari keranjang bola, membayangkan cewek-cewek berteriak, “Arial..!!! Arial..!!!” dengan heboh, kemudian mulai shoot.


“Hei. Ini kenapa ada clurit di tengah lapangan!!” teriak Atang mengagetkan. Ah, tak usah dihiraukan, Atang memang sering marah-marah begitu.


Seorang shooter yang baik pasti tahu bolanya itu akan masuk atau tidak. Kali ini masuk. Yah, walaupun hanya latihan, tapi instingku ini sudah terlatih setara pertandingan final. Yang harus dilakukan tinggal berbalik, melebarkan tangan, lalu......


“Waaaaaa..,” jerit teman-teman berlarian dari arah belakangku.

“Aaaaaaaaaa.” Mereka berlarian keluar lapangan, keluar sekolah, ke tempat terang. Sial, aku hanya bisa latah saja mengikuti mereka.


“Hoeek..,” beberapa temanku muntah-muntah setelah sampai jalan raya.


“Heh, ngapain sih lari-lari,” tanyaku megap-megap.

“Ta..tadi waktu kita main, a..ada kepala terbang yal,” kata Andi.

“Ah. Kepala apa??”

“Kepala orang... Masuk ke ring dengan sempurna. Begitu sampai lantai, darahnya muncrat kemana-mana!!!,” kata Atang.


Setelah itu, aku hanya bisa melihat tanganku. Ada semacam noda lengket disana.

Kemudian yang kuingat setelahnya hanyalah gelap. Aku pingsan.





Pinjam punyamu:
Soal:
Kira-kira apa yang mau dipinjam?



Namanya Jupri, berlari tergopoh-gopoh menuju depan kos Trias.

Tok.. tok.. tok..

“Yas..!! hoy, yas..!! Lo di dalem kan? Yas.. Buka yas..,”

Jupri mengetok-ketok pintu dengan keras, tapi kemudian berhenti dan mematung. Pikirannya melayang pada mimpinya tadi malam.


“Ada apa sih jup teriak-teriak,” ucap seseorang dari balik pintu.

Tak lama setelahnya, pintu terbuka dan wajah Trias menyembul dari balik pintu. “Ganggu orang tidur aja,” tambahnya dengan nada lelah.

“Trias..!!” Tanpa diduga, tiba-tiba Jupri memeluk Trias dengan sekali gerakan. Cepat sekali.

“Syukurlah yas. Gue kira lo udah mati. Tadi malem gue mimpi elo dibacok di kebon timur sampe kepala lo tuh copot yas.. Copot.. Nggelinding..!!!” ucap Jupri nerocos.

“Ah, masa sih?”

“Iya! Dan yang lebih parah lagi apa coba? Gila. Yang nebas lo itu nggak punya kepala yas! Hantu!” potong Jupri dengan nada geregetan.

“Halah, percaya sama mimpi, kapan kau ini bisa realistis juk, juk,” ucap Trias.

“Heh, gue ini peduli sama lo. Harusnya lo berterimakasih dong,” kata Jupri kesal. “Eh, yaudah, ternyata ngga ada apa-apa. Rugi gue kesini. Hehe, gue duluan ya. Hampir telat nih, ada kuliah,” kata Jupri yang memang sudah terkenal suka nerocos ini.

“Lah, tapi lo kok jadi kurusan gini sih yas?” tambah Jupri.

“Ah, perasaanmu aja kalik jup,” jawab Trias sembari memakai sandal, mengantarkan Jupri sampai depan jalan. Mereka berpisah dengan lambaian tangan dari keduanya...


Besoknya, tersiar berita bahwa Trias koma di RSUD. Trias ditemukan di kebon timur dalam keadaan luka parah. Bagian lehernya seperti disilet memutar mengelilingi leher.


“Dit..!!! Keluar dit..!!! Hoy.. Adit..!! Lo di dalem kan??” teriak Jupri sambil menggedor-gedor pintu kosan Adit.

“Dih, apaan sih jup. Pagi-pagi buta gini. Berisik ah,” ucap Adit bersautan dengan suara pintu terbuka.

“Pokoknya gue mau nginep sini!,”

“Heh, ngga usah pake gagap gitu donk. Ada apa sih? Lu tumben amat,” jawab Adit bingung.

“Lo tau kan mimpi gue soal Trias seminggu kemarin? Kali ini gue mimpiin kayak gitu lagi dit. Dan kali ini lo dit! Sama persis! Gila, gue takut serius,” ucap Jupri nerocos seperti biasanya.

“Ah, masa sih?”

“Iya! Pokoknya gue mau jagain lo disini, sampe besok pagi!,” potong Jupri cepat. “Tapi ngomong-ngomong, tumben lo pake jam tangan dit? Eh, ini bukannya jam-nya Trias ya?” tanyanya.

“Iya, gue pinjem kemarin. Berhubung sekarang dia masih di RS, gue pake dulu nggapapa kan?” jawab Adit. “Lagian gue juga mau pinjem sesuatu sama lu.”

“Hah, pinjem apaan?”

“Udah gampang, entar sore ikut ke kebon timur aja sama gue. Gue mau liat-liat TKP-nya Trias,” kata Adit mengagetkan Jupri.


Maghrib menjelang, mereka memulai perjalanan mereka ke kebon timur. Kebon timur adalah kebun pisang milik haji Rasmin di sebelah timur kampung.

Kata tetua-tetua desa, kebon ini dulunya dipakai untuk membuang mayat-mayat korban penyiksaan 1965. Makanya, sampai sekarang belum ada developer yang berani membangun perumahan di kebon timur.


“Dit, i...ini sama persis kayak tempat di mimpi gue dit,” ucap Jupri memecah kesunyian malam.

“Iya, tadinya gue juga nggak percaya jup......”

“Tapi setelah lu dateng lagi, gue jadi percaya. Ternyata lu emang pemimpi yang hebat......” kata Adit membalikkan badan menatap Jupri.


Entah kenapa, tubuh Jupri kaku, tangan kakinya lemas, pikirannya terbawa di tempat yang telah dia pijak 2 kali dalam mimpi kemarin. Ya, di tempat dia berdiri sekarang.

Dukk..!!

Gerakan mengagetkan terjadi. Adit mengeluarkan kapak dari tanah yang dia injak. Tapi itu biasa saja, bukan itu gerakan yang mengagetkan.

Kepala Adit yang mulai berdiri tiba-tiba terjatuh ke samping. Bunyi “duk” yang menyakitkan terdengar. Yang tersisa kini tinggal tubuh tanpa kepala yang berdiri tegak menghempas-hempaskan bokong kapak ke tangannya.

“Jup..” kata Adit. Lebih tepatnya kepala Adit.

“Gue boleh minjem sesuatu kan????”




*jawaban vol. 3 ada di sini

*vol. 4 (Riddle Psikopat) di sini



0 komentar:

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com